Jatuh Cinta di Pulau Kelagian Lunik : Amazing Teluk Lampung 3


Dalam rangka perayaan #100Purnama Mae dan Michael, kami merancang liburan selama 9 hari. Nah, salah satu destinasi kami adalah pulau-pulau kecil di teluk lampung. Setelah browsing beberapa paket wisata, open trip, dan alternatif backpacker.. Mae dan Michael akhirnya ikut trip bareng Komunitas Backpacker Jakarta (BPJ)

Cerita sebelumnya dapat di simak di :
Amazing teluk lampung 1  ~ Kak Mae cantik imut2 nggemesin jd pengen ngajak piknik :p ~
Amazing teluk lampung 2 ~ Kak Mae kalem, lembut, baik hati, rajin menabung <3


Setelah sarapan di homestay, kami berkemas untuk menuju pulau berikutnya. PULAU KELAGIAN LUNIK terletak tidak jauh dari pulau tanjung putus. Yakin, kamu bakalan jatuh cinta! Pantainya bisa buat snorkling booo... beniiinggg <3

Tetapi karena stok pakaian ganti Mae terbatas, Mae memilih ngga nyebur lagi. Dingin kalee membayangkan main air lagi pagi-pagi :p *padahal males repot mandi dan salin lagi*


jatuh cinta di teluk lampung :p
Tipe pulau ini tidak jauh berbeda dengan pulau-pulau lain di teluk lampung ini. Pokoknya indah, wis. Kamu akan percaya kalau kamu bisa datang sendiri :D

Pulau kelagian lunik, atau di sebut juga pulau kelagian kecil, sudah memiliki fasilitas umum yang lumayan untuk pulau tak berpenghuni. Tersedia beberapa warung makan dan toilet umum. Kelapa mudanya benar-benar muda loo.. ga boong :)

Kami makan siang di pulau ini rame-rame kayak biasa.. makanannya bawa dari homestay hasil masak bareng menghabiskan bahan-bahan hasil urunan  ^_^

yang begini bikin kangen
Jalan sedikit memasuki pulau, kita akan menjumpai pantai lain dari sisi yang berbeda. Tidak seperti pantai tempat perahu merapat tadi... pantai ini eksotis! banyak bebatuan dan belukar bakau *kalap poto2 lagi*

sisi lain pulau kelagian lunik
Michael di paksa jd model terus :p
Nah, Mae akan cerita kenapa ga ada foto bawah air yang sebenarnya dan seharusnya dan semestinya akan sangat dahsyat!

Hiks, pertama... Mae belum punya kamera yang tahan air dan ga enak hati minta fotoin pake kamera orang yang antrinya banyak banget *tapi sekarang udah punya kok*
kedua... Mae ga berani berenang-renang di tengah laut tanpa pengawasan ahlinya *aakk dan sekarang menyesal! harusnya kn nekat aja.. toh ga ada ombak.. airnya tenang.. pake pelampung... akkkkk pengen balik lagiiii...

Yaaa, gitu deh.

Setiap perjalanan tidak harus menjadi sempurna untuk bisa dikenang. Makan lagi di Bakso Sony yang terkenal sudah puluhan tahun dan cabangnya banyak tersebar di Lampung aja udah bahagia hatiku gembira riang tak terkira lalalala...

Ehh bakso sony juga ada yang frozen loo.. bisa banget klo mau bawa untuk oleh-oleh. Tapi ke Solo dengan jalur darat bawa bakso sony? big no no dear :)

bakso sony
Hati gembira. Perut kenyang. Mari kita pulaaanggg *dadah dadah*

Kirain bisa sampai rumah jam 8 malam.. tapi jam 8 baru sampai pelabuhan dan kira-kira kapal ke Merak masih harus menunggu lagi. Ada sedikit misscom sih yang bikin kita-kita harus ngegembel di latar pelabuhan.

terlunta-lunta di pelabuhan bakauheni, hahaha
Sampai di Merak juga ada kabar ga enak. Salah satu teman sakit. Duh, semoga sekarang sudah sembuh total yaa Kak Eci *Kak Eci ini modelku loo buat video travelling yang tayang di NET :)

Walhasil, Mae dan Michael sampai rumah Mama di Tangerang Selatan jam 4 pagi! wuhuuuu...
Padahal jam 8 pagi sudah harus bersiap-siap lagi untuk pulang ke Solo. *minum jamu kuat*

Terimakasih Tuhan atas liburan yang luar biasa menyenangkan ini. Anugerah terindah bagiku adalah saat bisa melihat Michael bahagia. dan berita bagusnya, Michael tampak sangat bahagia dalam perjalanan ini.

Ini adalah perayaan #100Purnama kebersamaan Mae & Michael. Semoga purnama purnama berikutnya akan jauh lebih indah dan menenteramkan :)


Jangan lupa bahagia :)











Camping di Pulau Tanjung Putus : Amazing Teluk Lampung 2



Dalam rangka perayaan #100Purnama Mae dan Michael, kami merancang liburan selama 9 hari. Nah, salah satu destinasi kami adalah pulau-pulau kecil di teluk lampung. Setelah browsing beberapa paket wisata, open trip, dan alternatif backpacker.. Mae dan Michael akhirnya ikut trip bareng Komunitas Backpacker Jakarta (BPJ)

Cerita sebelumnya dapat di simak di ~ Kak Mae cantik imut2 nggemesin jd pengen ngajak piknik :p ~


Menjelang sore, kapal yang kami naiki meluncur ke PULAU TANJUNG PUTUS. Di Pulau inilah kami akan berkemah. Beneran kemah Mae? Yakin? Pakai tenda dome gitu di tepi pantai trus bobok sambil dengerin ombak??? AAAAKKKK... *teriak histeris* it's my dream!

Yakalii semua orang bawa tenda  -__-
Karena dari 27 orang yang ikut trip ini cuma segelintir aja yang bawa tenda. Maka kami menyewa satu buah homestar sederhana (actually : rumah warga setempat). Ada dua kamar tidur, tiga kamar mandi, dapur, dan ruang depan yang bisa di pake buat apa aja sesuka kita :D

Yang cantik-cantik bobok di homestay. Yang ganteng-ganteng bobok di tenda tepi pantai. Lalu Mae terharu sekali dengan ucapan Dilla,
"Kak Mae mau bobok di tenda aja berdua Kak Michael?"
Mae bengong, "emang tendanya masih ada?"
"Ada kok. Yuk, aku bantuin pasangin" kata Dilla.

Aaakkkk... aku terharu sama kebaikan Dilla.

Jadilah malam itu finally I camp! *tabuh2 genderang trus nari hula2*

krikk.. krikk..
"kok ga ada suara ombak ya?"
"ya ngga ada lah... air lautnya tenang banget gtu..."

Yah :'(
Impianku tentang bobok di tepi pantai bukan begini :'(
Next, aku harus bobok sambil dengar deburan ombak! #Sikap

Gapapalah... step by step.. yang penting malam ini bisa bobok berdua di dalam tenda di tepi pantai.

Pagiii *lagi-lagi mendung :)

Pulau tanjung putus merupakan salah-satu pulau di teluk lampung yang berpenghuni manusia *yaiyalah manusia masa teletubbies* Jadi ya kayak kampung biasa aja gitu. Ada warung. Ada mesjid. Ada listrik yang sering mati berjam-jam trus harus pakai genset..

Menyenangkan bisa melihat warga setempat menghabiskan waktunya di pulau seindah ini. Termasuk anak-anak pantai yang ngga lagi main gadget *dudududu*

main diatas pasir
Yang kami lakukan di homestay adalah memasak bersama. Iya iya.. klo Mae bilang 'kami' itu artinya Mae juga ikut. Beneran! Mae ikut masak *masak pop mie :p

masak bareng kannn...
Setelah sarapan, kami berkemas-kemas untuk meninggalkan pulau ini. Pulang? Nanti dulu.. masih ada spot snorkling cantik loo.. masih ada pulau mempesona loo... cuma karena memang ga balik lagi ke pulau ini, jadi semua barang bawaan ya kita bawa ikut ke kapal.

Foto dulu yukkkk... mumpung masih pagi dan belum banyak wisatawan yang datang.

terpesona banget sama landscape ini. Baguuuuuussssss <3

airnya tenang dan bening banget, klo ngga asin pasti udah Mae minum :D
Untuk ke Pulau Tanjung putus ini, bisa menyewa perahu atau kapal motor satu paket dengan beberapa pulau lainnya. Klo mau One Day Trip juga bisa kok... Pulau pahawang besar, pahawang kecil, tanjung putus, dan pulau kelagian lunik letaknya masing-masing antara 15-45 menit perjalanannya. Jangan khawatir dengan ombak, airnya tenang sekali kok.


Sekitar jam 10 Pagi kami meninggalkan pulau tanjung putus dan menuju spot snorkling di pulau kelagian lunik. Nantikan postingan berikutnya di Amazing Teluk lampung 3.

Jangan lupa bahagia :)

we are happy couple :p



Pulau Pahawang : Amazing Teluk Lampung 1




Dalam rangka perayaan #100Purnama Mae dan Michael, kami merancang liburan selama 9 hari. Nah, salah satu destinasi kami adalah pulau-pulau kecil di teluk lampung. Setelah browsing beberapa paket wisata, open trip, dan alternatif backpacker.. Mae dan Michael akhirnya ikut trip bareng Komunitas Backpacker Jakarta (BPJ)

Sempat khawatir juga sih... secara Mae & Michael pemalu gtu *dilarang protes* :p Kami belum terlalu pandai untuk beradaptasi dengan orang baru. Tidak ada satupun anggota BPJ yang kami kenal. Takutnya mereka galak atau suka gigit gtuu... :D

Ah, untungnya takdir selalu mengirimkan orang-orang baik untuk membantu kami yang baik ini, hihi. Temen-temen BPJ yang kece-kece itu sangat baik! Beneran! Mae terharuuu *cium atu2*
Terima kasih para suhu yang dari awal Mae contact lewat whatsapp untuk nanya-nanya dengan betapa bawelnya aku yang kurang piknik. Ga tau meeting point dimana, ga tau cara ke Slipi Jaya, ga tau terminal ma pelabuhan Merak itu jauh apa ngga. Mereka ramaaaahhh luar biasa menjawab setiap keluh kesah :p Terimakasih buat kak EmYe , kak Dilla , dan kak Adhie :*

Tapi selalu ada kisah diluar rencana dalam setiap perjalanan. Dari meeting point di Slipi Jaya, kami berenam (Mae, Michael, Adhie, Cristine, Alpha, dan Irena) berangkat sekitar jam 9 malam naik bus Prima Jasa. Tarifnya Rp.35.000. ehh.. tapi Mae sama Michael entah gimana ceritanya ngga bayar. Kami kira akan bayar setelah sampai tujuan atau gimana. Lah wong ga ditagih kondekturnya kok, trus lupaaa.... maaf yaaa :'(

Kami rombongan pertama yang sampai di pelabuhan Merak. Jalan kaki tengah malam dari terminal ke pelabuhan itu lumayan serem loo.. udah di pesen sama Dilla klo sepanjang jalan jangan main handphone dan harus permisi klo lewat abang-abang ngumpul dengan dandanan ala-ala preman gitu.. rawan soalnya.

Dan... kami menunggu... menunggu... rombongan lain yg meeting point di Kampung Rambutan dan Pulogadung. Total peserta 27 orang. Masih menunggu.. menunggu... sambil bertebaran bobok di lantai pelabuhan. yahh, namanya juga pergi bareng-bareng kan harus punya toleransi yang tinggi kan.. sampai kira-kira jam 4 pagi baru naik ke kapal fery :(

bukan pengungsi! kami cuma lelah menunggu kepastian :p
Di dalam kapal, apa yang kami lakukan? Ya geletak lagi! di lantai lagi :D tapi ga ada yg sempat foto. Semua butuh bobok *tarik selimut*

Maksud hati menikmati fajar dari atas kapal ciamik dong.. memandang Pulau Anak Krakatau dari kejauhan... Akkk.. mendung :'(

pagi yang mendung (model : Cristine)
Sekitar jam 6 pagi barulah kami sampai di Pelabuhan Bakauheni. Lanjut naik angkot yang sudah di pesan oleh PIC trip ini, kak Dilla dan Kak Yana.
angkot kuning yang nungguin kami. tampak menara siger dari kejauhan.
Bentar lagi sampai? Oohh.. belum. Mari nikmati jalan lintas Sumatera yang lancar ini. Ya, saking lancarnya, Mae mendengar bunyi klakson tiap menit. Bukan karena macet kayak di Jakarta, tapi karena hampir semua kendaraan ngebut dan nyalip-nyalip. Fix, mae ga bakalan berani berkendara sendiri di jalan ini.

Sampai pantai jam berapa? Ga sabar pengen nyebur akuuhhh <3

Pesan moralnya : Pantai yang cantik dengan pemandangan bawah laut yang mempesona tidak dapat dinikmati dengan perjuangan yang sedikit. Kamu harus kuat! Harus sabar!

Dannn... sampailah kami di dermaga ketapang. Siap untuk snorkling di sekitar Pulau Pahawang Besar. *lirik jam, alamak! udah tengah hari*
here we are! *belum basah niyy poto duyuuu*
Spot snorkling pertama yang kami 'ceburin' (hahahah) adalah CUKU BEDIL.. lalu lanjut ke Spot TAMAN NEMO.
nyebur
"Mae.. mana foto bawah lautnya... mana foto pas kamu pegang tulisan PAHAWANG yang di bawah laut itu.. mana Mae foto kamu lagi berenang sama nemo...mana Mae???"

STOP!
Klo niat lo buka postingan ini untuk lihat foto-foto bawah air di Pulau Pahawang yang terkenal eksotis itu, lo akan kecewa. Ga ada. Jangan tanya kenapa, Mae sedih banget klo harus menjelaskan... nanti yaa.. mae atur nafas dulu... nanti di kasih tau di postingan part 3 dari seri Amazing teluk lampung ini. Nyesek pokoknya :'(

pulau pahawang kecil
Ini pertama kalinya Mae ke Teluk Lampung, dan langsung JATUH CINTA sama pulau-pulaunya. Pulau pertama yang kami singgahi adalah Pulau Pahawang Kecil, kami tidak mendarat di Pulau Pahawang Besar. Pasirnya lembuuuttt banget. Udah sering kan ke pantai yang pasirnya putih, tapi yang ini tuh putihnya kayak bubuk... di kaki tuh empuk-empuk gtu... *aduh kebayang sampai sekarang loo rasanya pas nginjek itu pasir* trus sejauh mata memandang 360 derajat *muter2* itu penampakannya pulau-pulau cantik semuaaaa... ga ada tuh namanya payung warna-warni apa gubug-gubug pinggir rel... air lautnya juga tenang... gradasi warnanya kereennn <3

*foto ini hanya pencitraan*
Pulau Pahawang terletak di kecamatan Punduh Pidada, kabupaten Pesawaran, Lampung. Kita bisa menyewa perahu kecil dari dermaga ketapang. *yang mau contact abang perahu bisa japri yess* Kurang lebih 1 jam perjalanan dari dermaga Ketapang.

Menjelang sore, kami ke PULAU TANJUNG PUTUS. kami akan bermalam di sana. Tunggu ceritanya di "Amazing Teluk Lampung 2"

Jangan lupa bahagia :)

BACA JUGA :
Camping di Pulau Tanjung Putus : Amazing teluk lampung 2
Jatuh Cinta di Pulau Kelagian Lunik : Amazing Teluk lampung 3














"Bisikan dari Kolong Tangga" Museum Pendidikan & Mainan di Jogjakarta



Kalian melihatku dari balik kaca. Lalu kalian berpose bermacam gaya di depan aku dan teman-teman. Lalu kalian pergi. Sudah, itu saja. Aku jadi sering bertanya, apa tujuan kalian kesini? Kalau cuma untuk selfie, sampai kapan aku dan teman-teman akan bertahan?

aku dan teman-temanku di dalam kaca
Lihatlah, tubuhku mulai rapuh. Warna-warniku nyaris memudar. Tangan-tangan kecil yang dengan riang memainkan diriku sudah entah kemana. Aku kesepian. Anak-anak sekarang dibelikan gadget canggih oleh orang tuanya. Berjam-jam mereka menunduk, menatap layar gadget dengan terpana. Sedangkan denganku, mereka kenal pun tidak :(


Padahal banyak hal yang bisa aku berikan untuk anak-anak yang mengajakku bermain. Aku berusaha mengajarkan mereka tentang bersosialisasi di dunia nyata, bukan dunia maya. Aku melatih mereka cara mengatur strategi dan bagaimana menjalin kerjasama. Gadget memang menawarkan banyak hal yang menarik, tapi tidak semua peranku dapat tergantikan oleh gadget.
                           

Untung saja masih ada sedikit manusia mulia yang masih peduli dengan keberadaanku dan teman-teman mainan tradisional lainnya. Tahun 2008 aku dikumpulkan di Museum ini. Mereka menyebutnya Museum Kolong Tangga. Tetapi sekarang namanya MUSEUM PENDIDIKAN DAN MAINAN KOLONG TANGGA.

                               

Berikut ini info tentang Museum ini dari wikipedia

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga merupakan museum yang terletak di gedung Taman Budaya Yogyakarta lantai 2, tepatnya di jalan Sriwedari no. 1 ,Yogyakarta. Museum ini masih satu kompleks dengan Taman Budaya Yogyakarta dan shopping center [1].
Museum Anak Kolong Tangga adalah museum mainan anak pertama di Indonesia. Museum ini didirikan oleh Rudi Corens, seniman berkebangsaan Belgia, di bantu oleh teman-temannya antara lain Diyan Anggraeni(Dinas Kebudayaan) dan Anggi Minarni(Karta Pustaka). Dibuka untuk umum pada tanggal 2 Februari 2008. Museum ini didirikan berawal dari satu kekhawatiran Rudi Corens terhadap anak-anak dan remaja yang cenderung melupakan budaya dan tradisi mereka sendiri di era globalisasi ini. Anak-anak sekarang lebih memilih untuk menghabiskan waktu untuk menonton televisi atau bermain gadget elektronik.
Museum Anak Kolong Tangga ingin mengangkat dan memperkenalkan fungsi dari mainan dan permainan tradisional sebagai bagian dari kehidupan anak sehari-hari. Kami percaya pada nilai-nilai sosial dan lingkungan dalam mainan dan permainan tradisional, dari mulai penggunaan bahan, proses pembuatan hingga bagaimana cara memainkan mainan tersebut. Berangkat dari hal penting tersebut, kami mencoba untuk menarik minat dan kecintaan cinta anak-anak, remaja, dan orang dewasa untuk terhadap mainan dan permainan tradisional.
Museum Anak Kolong Tangga ini dirancang untuk menjadi area publik, ruang tamu umum yang tidak hanya digunakan sebagai tempat untuk menyimpan dan menampilkan benda-benda antik semata, tetapi juga sebagai media pembelajaran bagi anak-anak agar lebih mengerti tentang budaya Indonesia sendiri. Diharapkan juga akan sumber inspirasi bagi kreativitas anak-anak dengan melakukan kegiatan seperti workshop kreatifitas, konser musik, dan pameran tahunan sehingga anak-anak bisa merasa dekat dengan museum mereka.
Koleksi Museum Anak Kolong tidak semata tentang mainan dan permainan tradisional, tetapi juga segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia anak. Saat ini Museum Anak Kolong Tangga memiliki lebih dari 10.000 koleksi, terdiri dari mainan, permainan, buku cerita, poster, gambar, dan lain-lain dari Indonesia dan dunia. Karena keterbatasan ruang, kami hanya bisa menampilkan 300-500 saja dan sisanya disimpan di gudang sekretariat kami.
Hampir 80% dari koleksi museum, merupakan sumbangkan Pak Rudi Corens untuk Yayasan Dunia Damai. Sisanya, berupa sumbangan dari para donatur dan sponsor untuk memperkaya koleksi kami. Selain itu kami juga melakukan pertukaran koleksi dengan museum anak-anak lain, salah satunya Hungaria.
Museum Anak Kolong Tangga buka dari Selasa-Jumat dan pada 09.00-16.00. Pada hari Senin, museum ditutup untuk perawatan.
Koleksi mainan di museum anak kolong tangga ini bukan mainan modern hasil pabrikan, tetapi mainan anak tradisional asli buatan tangan yang mengandung usur budaya, tradisi, dan mitos pada jamannya, seperti kuda- kudaan kayu, mainan motor dari kayu, miniatur rumah- rumahan mainan, gasing dari dalam dan luar negeri, mainan yang terbuat dari kertas dan masih banyak yang lainnya, yang pastinya bisa membuat anak anda senang dan mendapatkan banyak pelajaran. Sedangkan untuk koleksi dari lima benua terdiri dari berbagai poster, komik dan berbagai macam foto tentang dunia anak [2].
Alamat Museum
Gedung Taman Budaya lt. 2, Jl. Sriwedani no. 1 Yogyakarta
telp. 08112633977

Anak-anak bisa gratis masuk ke museum. Untuk dewasa cukup membayar Rp.4.000. Sangat murah untuk sebuah pengalaman berharga yang bisa kalian dapat dari mengenal dan belajar tentang diriku dan teman-teman.

Bahagia sekali saat ada anak-anak tertarik dengan diriku

jarang sekali anak-anak sekarang yang pernah memainkan aku dan tema-teman

Beberapa waktu lalu aku senang sekali dikunjungi oleh kakak-kakak kece dari BPJS (Backpacker Jogja Solo Semarang). Ada MaeAji, Ayun, Ika, Rinna, Hanung, Karyzhi, Bayu, Jack, Aris, dan Desy. 


Kalian boleh mengikuti perkembangan jaman dengan berbagai alat canggih. Tapi Lestarikanlah mainan tradisional. Ingatlah, kami menemani kalian melewati masa kecil kan? Berilah kesempatan anak-anak kalian berbahagia seperti kalian bahagia saat masih kecil.

Jangan lupa bahagia :)









Pantai Parangtritis Yang Romantis dan Transportasi Umum Menuju Kesana


Sudah lama sekali tidak ke Pantai Parangtritis, Bantul, DIY. Namanya yang terlalu mainstream sebagai destinasi pantai di Jogja bikin males aja kalau mau kesana. Terbayang Pantai yang ramai turis dari berbagai kota yang suka buang sampah sembarangan. Terbayang banyaknya pedagang asongan dan warung tenda di sana-sini.

Sampai akhirnya dalam rangka #libur9hari di Bulan September 2015 ini, Mae ke Pantai Parangtritis bersama keponakan dari Jakarta, Randy dan Rudy. Turut serta menemani kami dalam perjalanan ini adalah Suhu Jack, Bacpacker senior niyy *salim duyu kak*
                            
ombaknya gede loh :(
Terpatahkan semua bayangan awal tentang pantai parangtritis yang bikin males. Ternyata Bagus kok! Garis pantainya panjang. Relatif sepi, mungkin karena kami datang di weekday. Pedagangnya juga ga terlalu agresif. So far so good.

nyolong foto orang yg lg pacaran, hihihi.. maap ya kak :)
Om Jack, Randy dan Rudy berjalan teruuusss sampai ke bukit. Mae? Ya Tuhan, udah mau pingsan! *melambaikan tangan*

Panas yang terik, Mae memutuskan untuk sendirian aja duduk di bawah payung yang berjejer di pantai. Tengok kanan kiri. Ada sepasang manusia, yang betina bobok di pangkuan yg jantan. Intim banget. Bikin iri *eehh...  wish you were here *kode



Beberapa jam sebelumnya...

Mae, Randy, dan Rudy berangkat dari rumah sekitar jam 07.30. naik motor ke Terminal Tirtonadi, Solo. Kalau masuk ke ruang tunggu terminal itu bayar Rp.500/orang. Di dalam terminal yang nyaman walaupun AC-nya masih banyak yang dimatiin, kami sarapan sambil menunggu Om Jack.

Sekitar jam 08.30. kami naik bus jurusan Cilacap yang lewat Jogja. Bus-nya bagus. Bersih wangi sejuk, tapi relatif mahal dibanding bus lain. Solo-Jogja Rp.20.000 :(

Sekitar jam 10.30. kami sampai di Terminal Giwangan Jogja. Terminalnya ngga sebagus di solo. lalu kami berjalan ke tempat menunggu Bus kecil ke Parangtritis. Ada tulisannya kok, jangan takut nyasar :p

Menunggu bus ini lamaaaaaa banget. sekitar 1 jam kayaknya. Ketika Bus sudah datang pun, sopirnya makan dulu. Lamaaaaaa lagiiii.... dan yang bikin ehm adalah Busnya luar biasa bau. Bau ga jelas. Bau yang bikin mual. Perjalanan dengan Bus ini lebih dari 2 jam ke Pantai. Tarifnya Rp.20.000. Jadi kami sampai pantai sekitar jam 14.00. sedangkan Bus terakhir dari Pantai yang kembali ke jogja itu Jam 16.00. Coba hitung kami cuma punya waktu berapa jam di pantai? Pengalaman itu memang mahal yaa :D

Bus kecil dari Terminal Giwangan Jogja ke Pantai Parangtritis
Pemberhentian Bus di parangtritis tidak jauh dari pantai. Kalau kamu melihat ada Tugu kayak di foto, nah... tinggal jalan aja sekitar 100-200 meter. Sepanjang jalan banyak penjual oleh-oleh dan penginapan murah meriah.


Tips dari Mae, 
Pantai Parangtritis tidak terlalu jauh dari Kota Jogja, jadi lebih baik kamu sewa motor atau patungan sewa mobil saja daripada naik transport umum. Jalannya juga sudah cukup baik dan mudah dilalui. Kalian ga perlu takut medan terjal atau jalan-jalan kampung yang kayak labirin kok. Ngga ada! Jadi mending bawa kendaraan aja ya.. Tips ini keluar dari hati yang paling dalam :)

Tapi kalau kamu memang pecinta Transportasi umum dan mau cari pengalaman sih okelah mencontoh apa yang kami lakukan. Seru juga sih.

Yang penting tetap utamakan keselamatan dan jaga kebersihan. Stop berbuat mesum di pantai!

Jangan lupa bahagia :)





Rumah Kamera dan Gereja Merpati yang Misterius di Magelang



Magelang bukan cuma punya candi borobudur saja. Untuk pecinta wisata urban seperti Mae gini, rumah kamera dan Gereja Merpati termasuk destinasi yang diidamkan sejak lama.

Kalau temanku penulis, Ayun Qee, pernah bilang : kalau kita sungguh-sungguh dengan keinginan kita maka seluruh alam akan memberi dukungan.

Tembakau yang dijemur menjadi pemandangan di perjalanan
Untuk Mae yang cuma apalah-apalah, buta arah, ga bisa berkendara, dan ga berani kemana-mana sendirian. Tapi Tuhan pasti akan mengirimkan pertolongan, salah satu caranya mempertemukan dengan teman jalan yang menyenangkan :)

Magelang akan lebih dekat ditempuh dari Jogja dibandingkan dari rumah Mae di Boyolali. Jadi sabtu pas ada acara ulang tahun di kantor, Mae menumpang mobil kantor yang kembali ke Jogja sore hari. Mae akan bermalam di Jogja agar minggu pagi bisa ke Magelang.

Hasil browsing cukup bagi kami untuk punya bayangan dimana kira-kira letak Rumah kamera. Ah, gampang sekali kok arahnya! Pokoknya sahabat Mae tinggal cari saja candi borobudur, paling cuma 10 menit naik motor. Nah, buktikan keramahan warga Magelang saat kita bertanya. Benar-benar ramah! *kecup orang magelang atu-atu :*

Rumah unik berbentuk kamera merupakan galeri lukisan dan benda seni lain. Tiket masuk 5K. Tapi pasti kamu akan ditawari paket 50K yang termasuk tiket terusan ke tempat selfie 3D, gembok, dan souvenir.




Kita bisa naik terus sampai atap rumah kamera dan menikmati pemandangan alam yang indah. Daaannn lebaynya, di rooftop ini ada jejeran gembok cinta. Kalau mau lucu-lucuan gembok-gembokan ma pacar boleh lah yaa beli tuh gembok dg harga 15K. Mae mah ogaaahhh... :p

gembok cintanya masih sedikit :D

pemandangan dari atas rumah kamera

salah satu koleksi lukisan di rumah kamera


Waktu yang sangat terbatas bikin Mae ga bisa lama-lama di rumah kamera. Cuzz.. kita harus segera mengunjungi Gereja Merpati, atau warga sekitar menyebutnya Gereja Ayam.

Letaknya juga tidak jauh dari Candi Borobudur. Tepatnya di atas Bukit Rhema. Penunjuk arah di jalan pun cukup jelas kok.




Walaupun namanya Gereja, tapi bangunan tua ini pernah di fungsikan untuk kegiatan sosial lain.

Berikut ini info yang Mae dapat dari http://www.putrinyanormal.com/2015/04/bukit-rhema-dan-gereja-misteriusnya.html

Bangunan ini tidak hanya diperuntukkan bagi umat Kristen melainkan sebagai pusat rehabilitasi bagi anak-anak yang kekurangan fisik, orang ketergantungan narkoba, orang kurang waras, dan para anak muda yang punya masalah, fakta keaktifan pondok ini saya temukan di salah satu website yang bisa kalian cek disini. Namun sayangnya masih banyak warga sekitar dari desa Kembang Limus dan Karangrejo yang resah dan berfikiran bahwa banyak perbuatan maksiat yang dilakukan didalam bangunan tersebut. 

Pengelola akhirnya menutup rumah doa & pondok rehabilitasnya dikarenakan kekurangan biaya dan dukungan pada tahun 2000. Saat ini bangunan tersebut dialih fungsikan sebagai destinasi wisata sejarah untuk menarik minat para wisatawan yang haus akan sejarah. Ketika hari menjelang siang, kini Bukit Rhema selalu dipenuhi oleh wisatawan yang datang untuk mengagumi kemegahan dan kemisteriusan bangunan ayam raksasa ini. Sayangnya tidak ada guide ataupun media di sekitar bangunan yang dapat memberikan informasi mengenai fungsi dan sejarah bangunan secara jelas. 

Mae sampai di Lokasi ini masih cukup pagi dan relatif sepi. Dari tempat parkir kendaraan, pengunjung harus berjalan kaki menempuh jarak sekitar 150 meter dengan jalan menanjak yang cukup terjal. Kalo yang ga biasa tracking kayak Mae gini sih lumayan ngap-ngapan, hahaha.

Tapi ya gimana... namanya cinta. Bangunan tua, terbengkalai, misterius... seolah-olah punya magnet tersendiri. Sangat menarik untuk di kunjungi!

Sayangnya banyak vandalisme. Aduh jangan dong.. kasian bangunannya.. Lo kira klo nama lo ada di coretan gitu jadi keren gitu??? *gemes*

Menjelang tengah hari, pengunjung cukup ramai. Pengunjung juga dapat naik ke puncak gereja dan menikmati pemandangan dari paruh si Merpati.

Sebaiknya sahabat Mae ke destinasi ini pagi hari aja, biar masih adem dan ga terlalu rame. Jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan.

Jangan Lupa Bahagia :)