Jejak Mangkunegaran di Istana dan Astana : Part 2 Astana Girilayu


Rencananya, kami sebagai pecinta sejarah *uhuk, dilarang protes!, akan menapak tilas all about Mangkunegaran. Mulai dari Museumnya, Istana, Benteng kavallerie, lanjut ke Astana Girilayu dan Astana Mangadeg di Karanganyar. Ini rencananya loo yaaa.....

Baca cerita sebelumnya tentang Museum Mangkunegaran di sini



Setelah makan siang di Karanganyar Kota, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Girilayu Karanganyar. Giri artinya Gunung, layu artinya Mati. Astana Girilayu merupakan kompleks pemakaman bagi 'pejabat' dan kerabat dekat Prajan Mangkunegaran.



Untuk cerita yang lebih detail bisa kita simak di tulisan dan foto-foto Tony di https://www.facebook.com/samangkurat/posts/823856917697889

Astana Girilayu adalah kompleks pemakaman milik keluarga Mangkunegaran. Astana adalah kata dalam bahasa Jawa yang berarti "Persemayaman", sedangkan Girilayu memiliki arti "Gunung Layu". Makam ini dibangun oleh KGPAA Mangkunegara IV (penguasa Kadipaten Mangkunegaran yang ke empat). Sebenarnya Keluarga Mangkunegaran sudah memiliki kompleks pemakaman bernama Astana Mangadeg di mana Mangkunegara I (sambernyawa), Mangkunegara II dan Mangkunegara III dimakamkan.
KGPAA Mengkunegara IV memerintah Kadipaten Mengkunegaran pada kurun tahun 1853 – 1881. Beliau lahir pada tahun 1811, dengan nama asli RM. Sudira. Masa mudanya ia berdinas di kemiliteran dan turut serta memimpin pasukan Legioen Mangkoenagaran melawan pasukan Pangeran Dipanegara dan kemudian namanya berubah menjadi KPH. Gandakusuma.
Awal masa pemerintahan Mangkunegara IV, Kadipaten menghadapi krisis keuangan berat pasca Perang Dipanegara. Ditambah lagi dengan semakin dipersempitnya wewenang Raja Jawa. Akan tetapi Mangkunegara IV tidak kehabisan akal. Dengan memanfaatkan aset-aset Kadipaten yang ada beliau merambah dunia bisnis. Beliau mendirikan Pabrik Gula Colomadu dan Tasikmadu, dan juga bergerak dalam bisnis-bisnis lain. Maka, pada pertengahan abad 19, Kadipaten Mangkunegaran menjadi wilayah yang paling makmur di seluruh Tanah Jawa. Kemakmuran itu dimanfaatkan untuk memperindah bangunan Istana Mangkunegaran.
Memasuki akhir masa kekuasaannya, Mangkunegara IV berencana membuat makam yang megah. Sebenarnya Keluarga Mangkunegaran sudah mempunyai kompleks makam di Astana Mangadeg, tetapi Mangkunegara IV berencana membuat yang baru yang lebih megah, hanya saja ketinggiannya lebih rendah daripada Mangadeg.
Hari ini, 26 April saya bersama 3 teman Menziarahi Astana Girilayu . Memang kesan pertama yang saya dapat adalah “megah tapi tersembunyi” seolah sesuai keinginan Mangkunegara IV, yang tidak ingin lancang mengungguli pendahulunya di Astana Mangadeg, tapi juga tetap menampilkan kemegahan masa pemerintahannya.
Cungkup (Mausoleum) persemayaman Mangkunegara IV adalah pusat dari kompleks pemakman ini. Ukurannya 20x10x7 meter, dan seluruh bangunannya terbuat dari besi yang didatangkan langsung dari Belanda. Seolah menggambarkan kegandrungan mangkunegara IV pada industri. Lantai dan nisan makam terbuat dari marmer, dan bukan sembarang marmer karena langsung dipesan dari Gunung Carara Italia. Menurut penjaga makam; Pak warto, bangunan besi ini tidak dibangun di Girilayu, tetapi disusun di Belanda, kemudian dibawa dengan kapal ke Jawa, mendarat di Semarang, dibawa dengan kereta api khusus ke Surakarta, lalu diangkut secara manual ke Girilayu yang tingginya mencapai 1250 mdpl. Setelah sampai, kemudian baru marmer dipasang.
Makam ini selesai tahun 1875, enam tahun sebelum wafatnya Mangkunegara IV. Di dalam cungkup besi tersebut dimakamkan 3 orang yaitu KGPAA Mangkunegara IV sendiri beserta istrinya (nggak tahu istrinya yang mana yang dimakamkan di situ BRAy. Gandakusuma atau BRAy Dunuk) dan juga makam putra beliau (nggak tahu namanya).
Di Astana Girilayu ini juga dimakamkan 3 raja yang lain yaitu mangkunegara V, Mangkunegara VII dan Mangkunegara VIII (Mangkunegara VI dimakamkan di Astana Nayu). Tiap makam raja memiliki cungkupnya sendiri dan bentuk cungkupnya lebih sederhana dibanding milik Mangkunegara IV.
Di luar kompleks utama, dimakamkan juga kerabat-kerabat terdekat Kadipaten Mangkunegaran. Makam Astana Girilayu ini nuansanya tidak terlalu angker seperti makam-makam pada umumnya, bahkan nuansanya bersahabat dan adem. Jadi benar-benar direkomendasikan sebagai pilihan wisata sejarah dan ziarah


Sebenarnya masih pengen meng-khatamkan ke Astana Mangadeg dan Astana Giribangun yang letaknya tidak jauh dari Astana Girilayu. Tapi kasihan juga melihat Arif yang belum tidur dari kemarin karena kerja shift malam :)

Lalu kami juga sempat mampir ke Pabrik Gula Sondokoro (ini juga berkaitan erat dengan Sri Mangkunegaran). Tanya-tanya ke petugas keamanan, rayu-rayu dikit, tapi tetap tidak diizinkan masuk :(


Baiklah... masih akan ada banyak waktu untuk menapak tilas sejarah. Yuk, mulai dari yang ada disekitar kita dulu, dekat-dekat aja.

Jangan Lupa bahagia :)






Jejak Mangkunegaran di Istana dan Astana : Part 1 Museum Mangkunegaran Solo


Istana Mangkunegaran, atau Pura Mangkunegaran terletak di Jalan RM Said, Solo. Sudah lama Mae pengen masuk dan menjelajahi ke Museumnya gara-gara baca sebuah blog yang menyebutkan bahwa di sini ada sejenis "alat anti selingkuh". Nah, gimana ga penasaran coba? browsing sana sini ga ada fotonya! Memang, di dalam Museum dilarang foto-foto :(


Kenalan dulu, yang menemani Mae kali ini adalah Tony, Ike, dan Arif. Rencananya, kami sebagai pecinta sejarah *uhuk, dilarang protes!, akan menapak tilas all about Mangkunegaran. Mulai dari Museumnya, Istana, Benteng kavallerie, lanjut ke Astana Girilayu dan Astana Mangadeg di Karanganyar. Ini rencananya loo yaaa.....


Tiket masuk ke Museum Mangkunegaran Rp.10.000./orang belum termasuk pemandu. Setiap kelompok harus didampingi pemandu. Dan fee pemandu sukarela.

Untuk lebih mengenal Pura Mangkunegaran, berikut ini penjelasan tentang bagian-bagian dari bangunan Istananya di https://id.wikipedia.org/wiki/Pura_Mangkunagaran


Setelah pintu gerbang utama akan tampak pamedan, yaitu lapangan perlatihan prajurit pasukan Mangkunegaran. Bekas pusat pasukan kuda, gedung kavaleri ada di sebelah timur pamedan. Pintu gerbang kedua menuju halaman dalam tempat tempat berdirinya Pendopo Agung yang berukuran 3.500 meter persegi. Pendopo yang dapat menampung lima sampai sepuluh ribu orang orang ini, selama bertahun-tahun dianggap pendopo yang terbesar di Indonesia. Tiang-tiang kayu berbentuk persegi yang menyangga atap joglo diambil dari pepohonan yang tumbuh di hutan Mangkunegaran di perbukitanWonogiri. Seluruh bangunan ini didirikan tanpa menggunakan paku. Di pendopo ini terdapat empat set gamelan, satu digunakan secara rutin dan tiga lainnya digunakan hanya pada upacara khusus.

Warna kuning dan hijau yang mendominasi pendopo adalah warna pari anom (padi muda) warna khas keluarga Mangkunegaran. Hiasan langit-langit pendopo yang berwarna terang melambangkan astrologi Hindu-Jawa dan dari langit-langit ini tergantung deretan lampu gantung antik. Pada mulanya orang-orang yang hadir di pendopo duduk bersila di lantai. Kursi baru diperkenalkan pada akhir abad ke-19 waktu pemerintahan Mangkunagara VI.
langit-langit di pendopo bergambar 12 shio
Tempat di belakang pendopo terdapat sebuah beranda terbuka, yang bernama Pringgitan, yang mempunyai tangga menuju Dalem Ageng, sebuah ruangan seluas 1.000 meter persegi, yang secara tradisional merupakan ruang tidur pengantin kerajaan, sekarang berfungsi sebagai museum. Selain memamerkan petanen (tempat persemayaman Dewi Sri) yang berlapiskan tenunan sutera, yang menjadi pusat perhatian pengunjung, museum ini juga memamerkan perhiasan, senjata-senjata, pakaian-pakaian, medali-medali, perlengkapan wayang, uang logam, gambar raja-raja Mangkunegaran dan benda-benda seni.
Di bagian tengah Pura Mangkunegaran di belakang Dalem Ageng, terdapat tempat kediaman keluarga Mangkunegaran. Tempat ini, yang masih memiliki suasana tenang bagaikan di rumah pedesaan milik para bangsawan, sekarang digunakan oleh para keluarga keturunan raja. Taman di bagian dalam yang ditumbuhi pohon-pohon yang berbunga dan semak-semak hias, juga merupakan cagar alam dengan sangkar berisi burung berkicau, patung-patung klasik model Eropa, serta kupu-kupu yang berwarna-warni dengan air mancur yang bergerak-gerak di bawah sinar matahari. Menghadap ke taman terbuka, adalah Beranda Dalem, yang bersudut delapan, dimana terdapat tempat lilin dan perabotan Eropa yang indah. Kaca-kaca berbingkai emas terpasang berjejer di dinding. Dari beranda menuju ke dalam tampak ruang makan dengan jendela kaca berwarna gambar yang berisi pemandangan di Jawa, ruang ganti dan rias para putri raja, serta kamar mandi yang indah.
Sisa peninggalan yang masih tampak jelas pada saat ini adalah perpustakaan yang didirikan pada tahun 1867 oleh Mangkunagara IV. Perpustakaan tersebut terletak dilantai dua, diatas Kantor Dinas Urusan Istana di sebelah kiri pamedan. Perpustakaan yang daun jendela kayunya dibuka lebar-lebar agar sinar matahari dapat masuk, sampai sekarang masih digunakan oleh para sejarahwan dan pelajar. Mereka dapat menemukan manuskrip yang bersampul kulit, buku-buku berbagai bahasa terutama bahasa Jawa, banyak koleksi-koleksi foto yang bersejarah dan data-data mengenai perkebunan dan pemilikan Mangkunegaran yang lain.
Suka banget sama taman belakang ini. Ijo Ijo Ijo, hihihi...
perundingan meja bundar, sebelum keluar Museum :)
Didalam kawasan Mangkunegaran, berdiri sebuah Benteng Kavallerie - Artillerie. Disinilah pengaruh Napalleon dapat terlihat dalam sejarah prajurit Jawa. Sayangnya, saat Mae memasuki Benteng ini, kondisinya sangat tidak terawat. Benteng ini terskesan kumuh. Jadi rumah tinggal beberapa keluarga. mae penasaran banget mau tanya mereka siapa dan kenapa bisa tinggal disana, tapi ga berani :(

Oia sampai lupa mo cerita tentang "alat anti selingkuh". kalau yang buat laki-laki, menurutku bentuknya seperti koteka, terbuat dari emas. Jadi cuma ada lubang di ujungnya buat pipis, tapi sekitarannya banyak duri-duri gtu. *bayangin coba gimana caranya berhubungan seks dengan alat itu, bisa gilaaaa* Alat ini di pasang dengan mantra-mantra saat Suami pergi berperang atau ke tempat yang jauh berbulan-bulan. Tidak akan bisa dibuka sampai suami kembali. Demikian juga Sang Istri, bentuknya seperti G-string menurutku. Cuma ada lubang untuk keluar air seni. *Aduh itu apa pada ga gatel yaa :D

Waktu sudah menginjak tengah hari saat kami meninggalkan Solo dan meluncur ke Karanganyar. Dataran tinggi Matesih akan jadi destinasi selanjutnya. Kami akan ke tempat Sri mangkunegaran dimakamkan. Baca di postingan berikutnya yaaa.... 
Jangan lupa Bahagia :)