"Bisikan dari Kolong Tangga" Museum Pendidikan & Mainan di Jogjakarta



Kalian melihatku dari balik kaca. Lalu kalian berpose bermacam gaya di depan aku dan teman-teman. Lalu kalian pergi. Sudah, itu saja. Aku jadi sering bertanya, apa tujuan kalian kesini? Kalau cuma untuk selfie, sampai kapan aku dan teman-teman akan bertahan?

aku dan teman-temanku di dalam kaca
Lihatlah, tubuhku mulai rapuh. Warna-warniku nyaris memudar. Tangan-tangan kecil yang dengan riang memainkan diriku sudah entah kemana. Aku kesepian. Anak-anak sekarang dibelikan gadget canggih oleh orang tuanya. Berjam-jam mereka menunduk, menatap layar gadget dengan terpana. Sedangkan denganku, mereka kenal pun tidak :(


Padahal banyak hal yang bisa aku berikan untuk anak-anak yang mengajakku bermain. Aku berusaha mengajarkan mereka tentang bersosialisasi di dunia nyata, bukan dunia maya. Aku melatih mereka cara mengatur strategi dan bagaimana menjalin kerjasama. Gadget memang menawarkan banyak hal yang menarik, tapi tidak semua peranku dapat tergantikan oleh gadget.
                           

Untung saja masih ada sedikit manusia mulia yang masih peduli dengan keberadaanku dan teman-teman mainan tradisional lainnya. Tahun 2008 aku dikumpulkan di Museum ini. Mereka menyebutnya Museum Kolong Tangga. Tetapi sekarang namanya MUSEUM PENDIDIKAN DAN MAINAN KOLONG TANGGA.

                               

Berikut ini info tentang Museum ini dari wikipedia

Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga merupakan museum yang terletak di gedung Taman Budaya Yogyakarta lantai 2, tepatnya di jalan Sriwedari no. 1 ,Yogyakarta. Museum ini masih satu kompleks dengan Taman Budaya Yogyakarta dan shopping center [1].
Museum Anak Kolong Tangga adalah museum mainan anak pertama di Indonesia. Museum ini didirikan oleh Rudi Corens, seniman berkebangsaan Belgia, di bantu oleh teman-temannya antara lain Diyan Anggraeni(Dinas Kebudayaan) dan Anggi Minarni(Karta Pustaka). Dibuka untuk umum pada tanggal 2 Februari 2008. Museum ini didirikan berawal dari satu kekhawatiran Rudi Corens terhadap anak-anak dan remaja yang cenderung melupakan budaya dan tradisi mereka sendiri di era globalisasi ini. Anak-anak sekarang lebih memilih untuk menghabiskan waktu untuk menonton televisi atau bermain gadget elektronik.
Museum Anak Kolong Tangga ingin mengangkat dan memperkenalkan fungsi dari mainan dan permainan tradisional sebagai bagian dari kehidupan anak sehari-hari. Kami percaya pada nilai-nilai sosial dan lingkungan dalam mainan dan permainan tradisional, dari mulai penggunaan bahan, proses pembuatan hingga bagaimana cara memainkan mainan tersebut. Berangkat dari hal penting tersebut, kami mencoba untuk menarik minat dan kecintaan cinta anak-anak, remaja, dan orang dewasa untuk terhadap mainan dan permainan tradisional.
Museum Anak Kolong Tangga ini dirancang untuk menjadi area publik, ruang tamu umum yang tidak hanya digunakan sebagai tempat untuk menyimpan dan menampilkan benda-benda antik semata, tetapi juga sebagai media pembelajaran bagi anak-anak agar lebih mengerti tentang budaya Indonesia sendiri. Diharapkan juga akan sumber inspirasi bagi kreativitas anak-anak dengan melakukan kegiatan seperti workshop kreatifitas, konser musik, dan pameran tahunan sehingga anak-anak bisa merasa dekat dengan museum mereka.
Koleksi Museum Anak Kolong tidak semata tentang mainan dan permainan tradisional, tetapi juga segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia anak. Saat ini Museum Anak Kolong Tangga memiliki lebih dari 10.000 koleksi, terdiri dari mainan, permainan, buku cerita, poster, gambar, dan lain-lain dari Indonesia dan dunia. Karena keterbatasan ruang, kami hanya bisa menampilkan 300-500 saja dan sisanya disimpan di gudang sekretariat kami.
Hampir 80% dari koleksi museum, merupakan sumbangkan Pak Rudi Corens untuk Yayasan Dunia Damai. Sisanya, berupa sumbangan dari para donatur dan sponsor untuk memperkaya koleksi kami. Selain itu kami juga melakukan pertukaran koleksi dengan museum anak-anak lain, salah satunya Hungaria.
Museum Anak Kolong Tangga buka dari Selasa-Jumat dan pada 09.00-16.00. Pada hari Senin, museum ditutup untuk perawatan.
Koleksi mainan di museum anak kolong tangga ini bukan mainan modern hasil pabrikan, tetapi mainan anak tradisional asli buatan tangan yang mengandung usur budaya, tradisi, dan mitos pada jamannya, seperti kuda- kudaan kayu, mainan motor dari kayu, miniatur rumah- rumahan mainan, gasing dari dalam dan luar negeri, mainan yang terbuat dari kertas dan masih banyak yang lainnya, yang pastinya bisa membuat anak anda senang dan mendapatkan banyak pelajaran. Sedangkan untuk koleksi dari lima benua terdiri dari berbagai poster, komik dan berbagai macam foto tentang dunia anak [2].
Alamat Museum
Gedung Taman Budaya lt. 2, Jl. Sriwedani no. 1 Yogyakarta
telp. 08112633977

Anak-anak bisa gratis masuk ke museum. Untuk dewasa cukup membayar Rp.4.000. Sangat murah untuk sebuah pengalaman berharga yang bisa kalian dapat dari mengenal dan belajar tentang diriku dan teman-teman.

Bahagia sekali saat ada anak-anak tertarik dengan diriku

jarang sekali anak-anak sekarang yang pernah memainkan aku dan tema-teman

Beberapa waktu lalu aku senang sekali dikunjungi oleh kakak-kakak kece dari BPJS (Backpacker Jogja Solo Semarang). Ada MaeAji, Ayun, Ika, Rinna, Hanung, Karyzhi, Bayu, Jack, Aris, dan Desy. 


Kalian boleh mengikuti perkembangan jaman dengan berbagai alat canggih. Tapi Lestarikanlah mainan tradisional. Ingatlah, kami menemani kalian melewati masa kecil kan? Berilah kesempatan anak-anak kalian berbahagia seperti kalian bahagia saat masih kecil.

Jangan lupa bahagia :)









Pantai Parangtritis Yang Romantis dan Transportasi Umum Menuju Kesana


Sudah lama sekali tidak ke Pantai Parangtritis, Bantul, DIY. Namanya yang terlalu mainstream sebagai destinasi pantai di Jogja bikin males aja kalau mau kesana. Terbayang Pantai yang ramai turis dari berbagai kota yang suka buang sampah sembarangan. Terbayang banyaknya pedagang asongan dan warung tenda di sana-sini.

Sampai akhirnya dalam rangka #libur9hari di Bulan September 2015 ini, Mae ke Pantai Parangtritis bersama keponakan dari Jakarta, Randy dan Rudy. Turut serta menemani kami dalam perjalanan ini adalah Suhu Jack, Bacpacker senior niyy *salim duyu kak*
                            
ombaknya gede loh :(
Terpatahkan semua bayangan awal tentang pantai parangtritis yang bikin males. Ternyata Bagus kok! Garis pantainya panjang. Relatif sepi, mungkin karena kami datang di weekday. Pedagangnya juga ga terlalu agresif. So far so good.

nyolong foto orang yg lg pacaran, hihihi.. maap ya kak :)
Om Jack, Randy dan Rudy berjalan teruuusss sampai ke bukit. Mae? Ya Tuhan, udah mau pingsan! *melambaikan tangan*

Panas yang terik, Mae memutuskan untuk sendirian aja duduk di bawah payung yang berjejer di pantai. Tengok kanan kiri. Ada sepasang manusia, yang betina bobok di pangkuan yg jantan. Intim banget. Bikin iri *eehh...  wish you were here *kode



Beberapa jam sebelumnya...

Mae, Randy, dan Rudy berangkat dari rumah sekitar jam 07.30. naik motor ke Terminal Tirtonadi, Solo. Kalau masuk ke ruang tunggu terminal itu bayar Rp.500/orang. Di dalam terminal yang nyaman walaupun AC-nya masih banyak yang dimatiin, kami sarapan sambil menunggu Om Jack.

Sekitar jam 08.30. kami naik bus jurusan Cilacap yang lewat Jogja. Bus-nya bagus. Bersih wangi sejuk, tapi relatif mahal dibanding bus lain. Solo-Jogja Rp.20.000 :(

Sekitar jam 10.30. kami sampai di Terminal Giwangan Jogja. Terminalnya ngga sebagus di solo. lalu kami berjalan ke tempat menunggu Bus kecil ke Parangtritis. Ada tulisannya kok, jangan takut nyasar :p

Menunggu bus ini lamaaaaaa banget. sekitar 1 jam kayaknya. Ketika Bus sudah datang pun, sopirnya makan dulu. Lamaaaaaa lagiiii.... dan yang bikin ehm adalah Busnya luar biasa bau. Bau ga jelas. Bau yang bikin mual. Perjalanan dengan Bus ini lebih dari 2 jam ke Pantai. Tarifnya Rp.20.000. Jadi kami sampai pantai sekitar jam 14.00. sedangkan Bus terakhir dari Pantai yang kembali ke jogja itu Jam 16.00. Coba hitung kami cuma punya waktu berapa jam di pantai? Pengalaman itu memang mahal yaa :D

Bus kecil dari Terminal Giwangan Jogja ke Pantai Parangtritis
Pemberhentian Bus di parangtritis tidak jauh dari pantai. Kalau kamu melihat ada Tugu kayak di foto, nah... tinggal jalan aja sekitar 100-200 meter. Sepanjang jalan banyak penjual oleh-oleh dan penginapan murah meriah.


Tips dari Mae, 
Pantai Parangtritis tidak terlalu jauh dari Kota Jogja, jadi lebih baik kamu sewa motor atau patungan sewa mobil saja daripada naik transport umum. Jalannya juga sudah cukup baik dan mudah dilalui. Kalian ga perlu takut medan terjal atau jalan-jalan kampung yang kayak labirin kok. Ngga ada! Jadi mending bawa kendaraan aja ya.. Tips ini keluar dari hati yang paling dalam :)

Tapi kalau kamu memang pecinta Transportasi umum dan mau cari pengalaman sih okelah mencontoh apa yang kami lakukan. Seru juga sih.

Yang penting tetap utamakan keselamatan dan jaga kebersihan. Stop berbuat mesum di pantai!

Jangan lupa bahagia :)