Hammock Camp di Sekipan Tawangmangu

Yeayyy! Untuk pertama kalinya Mae bisa ikut Hammock Camp niy *loncat-loncat kegirangan*

Beberapa bulan lalu kenal komunitas HAMMOCKERS INDONESIA dari Kadila langsung sukaaaa.. Lalu masuk di grup WhatsApp Regional Jateng DIY. Orangnya baik hati dan ramah-ramah loo *ketjup atu-atu :*

Review 5 Kolam Renang Hotel Berbintang di Solo



Ada banyak sekali hotel berbintang di Solo. Nah, salah satu pertimbangan Mae dalam memilih hotel dimanapun adalah ada tidaknya voucher yang discount atau gratis :D  adalah kolam renangnya ^_^

Berikut ini beberapa kolam renang hotel berbintang di Solo yang pernah Mae kunjungi. Sebenarnya masih ada beberapa hotel yang belum disebutkan, soalnya sudah lama pas berenang disana dan ngga tau fotonya disimpan dimana. Lupa juga bagaimana rasanya berenang di tempat itu

Jadi, 5 hotel yang Mae sebutkan ini cuma yang sering Mae kunjungi dan favorit versi Mae yaa...

#Review1 Kolam Renang Lor In Business Resort & Spa Hotel

kolam anak-anak di Lor In
Lor In Business Resort & Spa Hotel

#Review2 Kolam Renang The Sunan Hotel

source : pegipegi.com
The Sunan Hotel

#Review3 Kolam Renang The Alana Hotel & Convention Center



The Alana Hotel & Convention Center

#Review4 Kolam Renang The Adhiwangsa Hotel & Convention Hall


The Adhiwangsa Hotel & Convention Hall

#Review5 Kolam Renang Jawa Dwipa Heritage Resort & Convention



Jawa Dwipa Heritage Resort & Convention

Pacu Adrenalin Menuju Telaga Madirda Karanganyar



Setelah sedikit drama di pagi hari, Mae dan Michael akhirnya memutuskan untuk mencari kitab suci ke barat  ke arah timur untuk mencari durian dan hammocking, main ayunan
Rencana tinggallah rencana. ga ada durian dan ga ada pohon ideal buat ikat ayunan :'(

Nanana... dengan berbekal aplikasi google map, kami menuju TELAGA MADIRDA yang terletak tidak jauh dari air terjun jumog di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Alasannya sederhana aj sih. Karena kami belum pernah ke telaga itu :D 

Hey! salam kenal, namaku Buni :)
Dudududu... dan drama pun berlanjut. Ternyata rute yang direkomendasikan google map lumayan ekstrim. Tanjakan curam dengan jarak yang cukup bikin motor kami terengah-engah *yakalee motor bisa terengah-engah :p Lalu Mae diusir dari motor disuruh jalan kaki. Hiyaaa..  kuat kok kuat...selangkah.. dua langkah.. enteng... loh loh kok michael udah ga kelihatan.. loh ini ternyata jauh ya jalan kaki najak gini kok langsung capek banget ya.. trus gue pingsan Mae memotivasi diri, pasti bisa! *singsingkan lengan, ciaaattt*
Istirahat sebentar. Makan apel. Lalu mendung :’(


Mae dan Michael melajutkan perjalanan yang entah sampai kapan ini semua akan berakhir L Akhirnya kami melihat penunjuk arah yang menandakan TLOGO sudah dekat. Hurrraayyyy!!!

dari jalan utama, belok kanan masuk gang ini yaa..
Cukup membayar biaya parkir kendaraan saja sebesar Rp.2000. kita bisa menikmati eksotisme telaga ini. Tapi sayang saat Mae kesana sedang ada kerja bakti perbaikan jalan dan sound system keras sekali menyetel lagu-lagu dangdut.


Ada banyak ikan kecil warna-warni di telaga ini. Tetapi pengunjung tidak diperkenankan untuk menangkapnya. tuhhh... tulisan peringatannya ada dimana-mana.


Cekrak cekrek bentar. Cantik dikit cantik banyak cantik banget.  Lalu hujanpun turun dengan syahdu. Lalu Mae dan Michael nari-nari India sambil hujan-hujanan  berteduh di tenda biru penjual sate ayam *emang udah laper sih... Ada kejadian tak terduga di tenda biru ini, hiks. Ceritanya Mae di hisap vampir, eh lintah dink :p

Woaaa.. walaupun nunggu makanannya lama *padahal ga antri* tapi porsinya cukup banyak. harganya juga manusiawi. Rp.10.000 per porsi sate ayam 10 tusuk plus lontong. rasanya standar :)



Dengan kecepatan sekitar 60km/jam waktu tempuh dari rumah Mae ke Telaga Madirda sekitar 90 menit. Termasuk muter-muter di Karanganyarkota yang jalan utamanya masih dipakai car free day.


Telaga Madirda tidak terlalu luas kok. Kalau kita jadi penduduk setempat, mungkin kita akan menganggapnya seperti empang aja gitu. widiihh, jangan salah, airnya jernih dan available klo mau berenang-renang ditepian ^_^

yang pasti available buat foto-foto juga kan :p
Kalau mau ke telaga ini, bisa loo dalam satu hari sekalian ke air terjun jumog dan air terjun parang ijo. Ada juga Goa Sari, tapi Mae belum pernah kegoa itu.

Jalan-jalan dan menjadi bahagia itu ga harus mahal ya gaeess... nih total pengeluaran Mae dan Michael kali ini cuma Rp.47.000, jadi kalau perorang tinggal dibagi dua aja yaa...
Bensin Rp. 20.000.
Parkir   Rp.  2.000.
Makan  Rp.23.000.
Cimol   Rp.  2.000.

pencitraan lagi ahh :)


Jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan di lokasi wisata. Utamakan keselamatan saat selfie.
Jangan lupa bahagia :)

BACA JUGA


Akulah Lintah Penghisap Darah di Telaga Madirda Karanganyar

Saat menulis ini, aku dalam kondisi kekenyangan *elus-elus perut* nyam-nyam.. siang ini aku dan 2 lintah saudaraku habis menghisap darah seorang wanita jelita, sebut saja namanya Mae *beneran jelita! ~lalu pembaca protes... dududu... *suka-suka yang punya blog! Situ pengen dibilang jelita juga? Bikin blog sendiri, dong!

Mae itu baik hati sekali. Saat dia melihat saudaraku sesama lintah menempel di jemarinya, alih-alih menjerit sok lebay kayak wanita lainnya, Mae malah setengah berbisik, “ehh ini apa sih lucu.. kecil lembek goyang-goyang...” eeaaaa...

Lalu Mae hanya menjauhkan lintah itu. Udah, gitu doang. Saudaraku ga di bunuh. Saat itu aku sedang asyik menghisap darahnya di kelilingking kaki.

“loo.. kok banyak banget ini ada lagi. Lintah ya?” Mae bicara dengan travelmatenya, sebut saja namanya Michael.

Michael menoleh dan terkejut, lalu dengan hati-hati memindahkan saudaraku sesama lintah lainnya yang menempel di betis Mae, ke rumput, tidak di bunuh juga! Wah ini kok manusia pada baik-baik amat ya, padahal bekas gigitan saudaraku itu masih meneteskan darah terus dari betis Mae. *lintah mendadak merasa bersalah*

“ADA LAGI!” Michael mengetahui keberadaanku. Aku waspada dan menghentikan aktifitasku dalam menyedot darah di jari kelingking kaki Mae.

Sepertinya Mae mulai merinding. Tiga kali mengetahui ada lintah yang menyedot darahnya mungkin membuatnya shock juga. Akhirnya wanita jelita itu menjerit juga. Habis sudah! Michael pasti membunuhku *pasrah*

Ternyata nggak kok.. aku cuma dipindahkan ke rerumputan. Dari sini aku bisa menyimak perbincangan antara Mae dan Michael. Aku bisa melihat mereka mulai menyisir tikar tempat mereka duduk, mencari mungkin masih ada lintah-lintah lain. Dan benar saja, mereka menemukan beberapa saudaraku di tikar. Lintah yang belum menghisap darah itu ukurannya kecil sekali, serupa benang saja besarnya. Tapi yang sudah kenyang seperti aku akan tampak sebesar butiran beras, lembek goyang-goyang, sekilas kayak di animasi Larva.

Di musim penghujan seperti ini. Aku dan saudara-saudaraku banyak menempel di rerumputan. Kami menunggu kaki-kaki yang bisa kami tempeli, lalu menghisap darahnya. Seperti Mae, korban kami tidak akan merasakan sakit atau rasa apa-apa. Sampai kami kenyang dan sangat gendut. Tetapi bekas gigitan kami cukup dalam. Ada beberapa lubang di kaki Mae yang terus menerus mengeluarkan darah selama beberapa menit. Aku melihat Michael dengan sangat teliti berusaha menghentikan keluarnya darah tersebut dengan cara mengolesi air liurnya.

Saat itu, Mae dan Michael sedang berteduh dari hujan di tenda penjual sate ayam. Mereka tidak menyadari bahwa kami menempel saat mereka menginjak rerumputan tadi. Kami memang tinggal disini. Telaga Madirda, Ngargoyoso Karanganyar.


Sampai jumpa, Mae dan Michael. Kembali lagi kesini, tapi harus waspada dengan langkah kakimu. Kami menunggumu di rerumputan J

BACA JUGA
Pacu Adrenalin Menuju Telaga Madirda